Gelar Terakhir Bapakku Sebagai Hero

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

H2C-Hello Hero Challenge''

''Judul Blog : Gelar Terakhir Bapakku sebagai Hero.

Nama Lengkap : Penti Purhani

Guru Mata Pelajaran : Fisika

Asal sekolah : SMA Karya Pembangunan 2 Bandung



Gelar Terakhir Bapakku Sebagai Hero

Satu detik yang lalu ialah masa lalu dan tidak akan pernah bisa kembali. Begitu berharganya waktu dalam kehidupan. Beruntunglah bagi mereka yang semasa hidupnya memberikan manfaat bagi orang banyak. Saya akan bercerita kisah nyata mengenai sosok pria bernama Acep Saepurrohim. Beliau adalah Bapak Saya. Seorang guru PNS Sekolah Dasar kelas VI yang sangat dicintai oleh para murid-muridnya.Seorang guru yang ketidakhadirannya selalu dirindui oleh murid-muridnya. Cara mengajarnya yang unik, mimiiknya yang meyakinkan, candaannya yang sangat menggugah semangat murid-muridnya untuk mau belajar. Tidak hanya dirindui oleh murid-muridnya, beliau juga sosok pria yang bertanggung jawab terhadap anak kandungnya, yang selalu menyempatkan mengantar jemput anaknya sekolah. Setiap kali di jalan bertemu dengan pedagang yang sudah tua renta, beliau selalu membeli barang dagangannya meskipun barang tersebut tidak dibutuhkan olehnya. Rasa simpati dan empatinya sangat tinggi namun tetap rendah hati. 

Meski usianya tidak muda lagi beliau masih semangat melanjutkan studi Strata-1 yang sempat tertunda karena masalah biaya kuliah. Selain sebagai seorang pendidik beliau setiap pulang sekolah bekerja di bengkel milik orang lain untuk menambah biaya hidup dan biaya kuliahnya.

Pada tanggal 20 Mei 2014 bertepatan dengan hari kedua Ujian Nasional di SD tempat beliau mengajar,beliau memaksakan diri datang ke sekolah untuk memantau pelaksanaan UN dengan kondisi beliau yang sudah satu minggu mengeluhkan sakit kepala yang sangat hebat dikepalanya dan sudah tidak bisa melihat dengan jelas. Namun betapa kagetnya Saya ketika menerima telepon dari rekan Bapak bahwa bapak telah jatuh tak sadarkan diri di warung kantin dekat sekolah. Akhirnya, Bapak dibawa ke rumah. Sesampainya di rumah, Bapak meminta dibuatkan satu cangkir susu namun selang beberapa jam Bapak muntah-muntah dan merasakan sesak nafas. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Rumah Sakit untuk diperiksa. Kegelisahan kami sampai pada pukul satu malam barulah ditemukan bahwa Bapak terkena serangan jantung dan tekanan darahnya mencapai 250/150 mm Hg. Namun siapa yang menyangka bahwa pada pukul 2 pagi Bapak meninggal dunia. Betapa sedihnya Kami Keluarganya karena sebelumnya beliau tidak pernah mengeluh tentang sakit yang dirasakannya. Kabar duka tersebut Kami sampaikan kepada saudara-saudara, rekan Bapak, termasuk pada pihak Universitas.

 Manusia hanya bisa berencana namun takdir Alloh SWT berkehendak lain. Walau Bapak tidak mempunyai gelar S.Pd. Namun, gelar terakhir Bapakku sebagai hero bagi keluarga dan murid-muridnya yang selalu turut mendoakannya.

 

Komentar